Halaman Utama

Selasa, 06 Maret 2012

Pedagang Ikan Dan Burung Rajawali



Jupitter Renungan


Orang yang bisa menjalankan kewajiban sendiri, baru dapat mencurahkan
kemampuannya. Seperti burung yang terbang di angkasa, bunyi kicauan-nya
yang nyaring, jelas dan merdu, menambah dinamika kehidupan alam,
inilah kewajiban dan kemampuan mereka.

Ada pun manusia, kewajibannya adalah patuh pada hukum dan disiplin diri,
berkelakuan baik, sedangkan kemampuan adalah mengembangkan kecakapan
intuitif melayani orang lain. Tetapi ada yang hanya ingin memamerkan
kemampuan, namun tidak tahu kewajibannya, tidak mau mematuhi
kewajibannya, akibatnya keluar dari prosedur dan melanggar aturan, ini
sungguh merupakan hal yang sangat mengerikan!

Alkisah pada suatu masa disebuah desa, hiduplah seorang pemuda yang
bermata pencaharian dengan berdagang ikan. Suatu hari seperti biasa dia
berjualan ikan di ujung jalan desa, “Ikan…ikan….!” sambil berteriak
dan memandang ke sekitar, mungkin ada orang yang akan lewat dan membeli
dagangannya. Namun tiba-tiba, WUSS… dari angkasa seekor rajawali
menukik ke bawah, dan menyambar seekor ikan dari lapaknya lalu terbang
lagi ke angkasa. Dengan sangat marah pedagang ikan itu berteriak lantang
“Hai kembalikan ikanku!” sambil berteriak ia mengacung-acungkan kepalan
tangannya ke angkasa namun teriakannya sia-sia, ia hanya bisa memandangi
rajawali itu terbang semakin jauh dan tinggi dengan sedih.

Sambil berguman, ia berkata, “sayang aku tidak punya sayap, jika punya
kau tidak akan kulepaskan!” Sambil ia melangkah lemas.

Ketika dia pulang ke rumah, melewati sebuah Kuil Dicang, ia berlutut di
depan kuil, berdo’a memohon pada Bodhisatwa agar menjadikannya seekor
burung rajawali, agar bisa terbang ke angkasa. ” Ya Bodhisatwa yang
Agung, hamba mohon jadikanlah hamba burung agar bisa terbang ke
angkasa.” Sejak saat itu, setiap hari ia lewat Kuil Dicang, dan akan
berdo’a dengan sepenuh hati.

Kebiasaan itu diamati oleh sekelompok pemuda yang melihat ia setiap hari
berdo’a memohon pada Bodhisatwa, dan dengan rasa penasaran mereka saling
membicarakannya, salah satu di antaranya berkata: “Ia berdoa setiap hari
agar dapat berubah menjadi seekor rajawali agar dapat terbang ke
angkasa.”

Yang lainnya lantas berkata : “Aduh! Betapa tololnya dia, mau berdoa’a
sampai kapan? Lebih baik dia kita kerjain!”

Keesokan hari, mereka masuk kuil dan menunggu pedagang ikan itu datang
seperti biasanya. Salah satu di antara pemuda itu bersembunyi di
belakang patung Bodhisatwa. Tidak lama kemudian, pedagang ikan itu
datang, seperti biasa ia sembahyang dan memohon dengan tulus, pemuda
yang sembunyi di belakang patung Bodhisatwa berkata: “Kau memohon dengan
begitu tulus, aku akan memenuhi keinginanmu, pergilah ke desa dan cari
sebuah pohon yang paling tinggi, lalu panjatlah pohon itu.”

Pedagang ikan gembira sekali mengira benar-benar telah mendengar
petunjuk Bodhisatwa, kemudian bergegas ke desa dan menemukan sebuah
pohon yang paling tinggi, lalu naik ke atas pohon itu. Pohon itu
benar-benar tinggi sekali. Makin naik ke atas ia semakin cemas.
Ia memanjat sampai ke puncak pohon, dan begitu melongok kebawah dalam
hati ia berkata : “Wah! Tinggi sekali! Apa benar aku bisa terbang?”

Sekelompok pemuda itu datang, mereka sengaja ramai-ramai
memperbincangkannya dan berteriak : “Hei!, Coba kalian lihat di atas
puncak pohon itu, ada seekor rajawali besar, entah dia bisa terbang atau
tidak? Kalau memang rajawali, pasti bisa terbang dong!”

Pedagang ikan itu gembira sekali, dia berpikir: “Ternyata aku telah
berubah menjadi seekor Rajawali, kalau memang Rajawali, mana mungkin
tidak bisa terbang?” Kemudian ia membentangkan kedua tangannya seperti
sayap hendak terbang, ia membayangkan bagaimana seekor burung akan
terbang, kemudian ……”UPS!” ia meloncat seperti burung hendak terbang
tetapi ia ……WOOOOOO terbang ke bawah.

Tapi, kenapa bukan terbang ke atas, malah merosot jatuh ke bawah?
O..ngeri sekali! Namun, sudah terlambat. Dan untung saja, ia terjatuh di
antara lumpur dan rumput, hanya mengalami luka kecil.

Pemuda-pemuda itu datang menghampiri, dan mengolok-oloknya “Apa yang
kalian tertawakan? Ini karena kedua sayap saya patah, bukannya tidak
bisa terbang!” Kata pedagang ikan itu tak tahu malu.

Cerita ini dapat memberi kita moral:
Seseorang harus memenuhi kewajiban pribadinya, baru dapat mencurahkan
kemampuannya. Jika hanya ingin mendapatkan kemampuan yang besar, namun
tidak mematuhi kewajibannya, tidak tahu diri dan secara membabi buta
melakukan hal yang melampaui batas kemampuan diri sendiri, itu sangat berbahaya.


Sumber :: http://toccatafugue.wordpress.com/2008/11/21/pedagang-ikan-dan-rajawali/


jupitter.blogspot.com/



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

http://jupitterpandawa.blogspot.com/

Silahkan masukan comentar anda

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...