Halaman Utama

Senin, 05 Maret 2012

Opening the Door of Your Heart – by Ajahn Brahm



Jupitter Renungan


Orang di jaman sekarang terlalu banyak berpikir.
Kalau saja mereka mengurangi proses berpikir mereka sedikit,
maka hidup mereka anda akan menjadi jauh lebih gampang.

Di vihara kami di Thailand, setiap minggu di suatu malam,
bhikkhu-bhikkhu begadang melewatkan waktu tidur mereka untuk
bermeditasi semalaman di ruang utama. Ini sudah menjadi
tradisi bhikkhu hutan. Tidaklah terlalu berat, karena kami
selalu bisa tidur di pagi harinya.

Suatu pagi, sesudah semalaman bermeditasi, ketika kami sudah
siap kembali ke pondok masing-masing untuk tidur, kepala
vihara memanggil seorang bhikkhu junior, orang Australia.
Betapa kecewanya dia karena kepala vihara memberikan dia
setumpukan besar jubah untuk dicuci, seraya menyuruhnya
untuk melakukannya sekarang juga. Sudah menjadi tradisi kami
untuk membantu kepala vihara mencuci jubahnya dan juga
melayaninya melakukan hal-hal kecil lainnya.

Ini merupakan pekerjaan mencuci yang banyak. Lagipula,
seluruh cucian harus dikerjakan dengan cara tradisional ala
bhikkhu hutan. Air harus ditimba dari sumur, membuat api
besar dan memasaknya sampai mendidih. Potongan kayu dari
pohon nangka harus dipotong menjadi kepingan-kepingan kecil
dengan menggunakan kapak. Potongan kecil tersebut dimasukkan
ke dalam air mendidih tadi untuk mengeluarkan sarinya, yang
berfungsi sebagai “deterjen”. Lalu setiap jubah diletakkan
secara terpisah di dalam sebuah bak kayu yang panjang,
kemudian air mendidih kecoklatan itu ditumpahkan ke
dalamnya. Jubah-jubah itu kemudian dipukul-pukul dengan
tangan sampai bersih. Bhikkhu itu kemudian harus
mengeringkannya di bawah sinar matahari, membolak-baliknya
secara teratur agar pewarna alaminya tidak luntur. Mencuci
satu jubah saja sudah lama dan repot. Mencuci sebegitu
banyak jubah membutuhkan waktu berjam-jam. Si bhikkhu muda
Brisbane ini sudah lelah semalaman tidak tidur. Saya kasihan
juga kepadanya.

Saya datang ke pelataran tempat mencuci itu untuk
membantunya. Sesampai di sana, dia sedang memaki-maki, lebih
condong ke tradisi Brisbane daripada tradisi Buddhis. Dia
mengeluhkan betapa tidak adil dan kejamnya. “Tidak bisakah
kepala vihara menunggu sampai besok? Tidakkah dia menyadari
bahwa saya tidak tidur semalaman? Saya tidak menjadi bhikkhu
untuk mencuci!” Kata-katanya tidak persis seperti itu, tapi
itulah yang masih cukup sopan untuk ditulis di sini.

Saat itu terjadi, saya telah menjadi bhikkhu selama beberapa
tahun. Saya mengerti yang dia alami dan tahu jalan keluar
dari permasalahannya. Saya berkata kepadanya, “Berpikir jauh
lebih berat daripada mengerjakannya.”

Dia menjadi terdiam dan memandang saya. Setelah beberapa
lama berdiam diri, tanpa berkata apa-apa dia kembali bekerja
dan saya kembali ke tempat untuk tidur. Belakangan di hari
itu, dia datang menemui saya untuk mengucapkan terima kasih
atas bantuan saya mencuci jubah. Memang benar, dia
menyadari, berpikir adalah bagian yang terberat. Ketika dia
berhenti mengeluh dan hanya mengerjakan cuciannya, sama
sekali tidak ada masalah.

Bagian terberat dari segala hal dalam hidup adalah
memikirkannya.


Sumber :: http://toccatafugue.wordpress.com/2009/07/13/opening-the-door-of-your-heart-by-ajahn-brahm/


jupitter.blogspot.com/




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

http://jupitterpandawa.blogspot.com/

Silahkan masukan comentar anda

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...