Halaman Utama

Kamis, 15 September 2011

Proses Pembuatan Hujan Buatan


Jupitter News _ Untuk meningkatkan kualitas udaranya Beijing sebagai penyelengaara Olimpiade melakukan berbagai cara, salah satunya dengan membuat hujan buatan. Hujan buatan bukan berarti manusia mampu menciptakan hujan, tetapi metode mempercepat terjadinya hujan. Cara membuat hujan buatan dengan menyemai awan dengan menggunakan bahan yang bersifat higroskopik (menyerap air) sehingga partikel-partikel air lebih cepat terbentuk dan hujan pun turun.

Awan yang dijadikan sasaran dalam kegiatan hujan buatan adalah jenis awan Cumulus (Cu) yang aktif, dicirikan dengan bentuknya yang seperti bunga kol. Awan Cumulus terjadi karena proses konveksi.


Quote:
Awan Cumulus terbagi dalam 3 jenis, yaitu:

Quote:
Strato Cumulus (Sc) yaitu awan Cumulus yang baru tumbuh.

Quote:
Cumulus (Cu).

Quote:
Cumulonimbus (Cb) yaitu awan Cumulus yang sangat besar dan mungkin terdiri beberapa awan Cumulus yang bergabung menjadi satu.


Jenis awan Cumulus (Cu) yang bentuknya seperti bunga kol, merupakan jenis awan yang dijadikan sebagai sasaran penyemaian dalam kegiatan hujan buatan.


Quote:
Ada beberapa metode untuk menyemai bahan semai kedalam awan . Yang paling sering dan biasa dilakukan adalah menggunakan pesawat terbang. Selain menggunakan pesawat terbang, modifikasi pesawat terbang juga dapat dilakukan dari darat dengan menggunakan sistem statis melalui wahana Ground Base Generator (GBG) pada daerah pegunungan untuk memodifikasi awan-awan orografik dan juga menggunakan wahana roket yang diluncurkan ke dalam awan.
Quote:

Di Indonesia, sejak tahun 1998 BPPT dan PT. INCO bekerja sama dengan perusahaan dari Amerika memakai metode penyemain awan dengan teknologi flare perak iodida.Dengan teknologi ini, pesawat yang dibutuhkan untuk menemai awan tidak perlu besar, cukup pesawat kecil yang dilengkapi dengan 24 tabung flare perak iodida yang di pasang di sayap pesawat terbang dan bak peluncur roket.Setelah posisi awan, arah dan kecepatan angin diketahui pesawat pun menuju awan potensial dan flare pun mulai dinyalakan dengan mematik listrik otomatis dari kokpit pesawat. Setelah itu tinggal menunggu hasilnya.


Quote:
Metode penyemain awan dengan teknologi Flare Perak Iodida.
Quote:

Quote:

Quote:
PESAWAT turboprop King Air-200 terbang menggapai awan. Dua sayapnya masing-masing memanggul 12 kembang api. Dalam perutnya terpasang petasan kecil-kecil sebanyak 408 biji. Masing-masing rak memuat 12 tabung kembang api, yang mengandung CaCl2, NaCl, dan inti es (serbuk perak iodida). Serbuk perak iodida (AgI) biasanya digunakan untuk bahan pembuatan film dan kertas foto. Senyawa ini mudah terurai jika kena cahaya, menghasilkan perak yang memberi bayangan pada kertas foto. Satu tabung beratnya satu kilogram. Kemampuannya setara dengan satu ton garam yang lazim digunakan untuk membikin hujan buatan dalam metode konvensional. Sebab CaCl2 memiliki sifat menyerap yang sangat tinggi (ultra-absorbent). Dengan sifat higroskopik yang tinggi itu, kerja CaCl2 lebih efektif. Bahan higroskopik berfungsi mengisap uap air dari atmosfer, hingga membentuk awan dan kemudian membuahkan hujan. Di dalam tabung flare, selain terdapat CaCl2, juga terkandung bahan kimia yang reaktif bila kena panas. Bahan itu mudah terbakar jika tersengat bunga api. Sehingga bahan kondensasi CaCl2 bisa langsung keluar berupa asap dengan kepekatan yang sama dengan cara konvensional. Hanya saja, butiran partikel flare lebih halus dari partikel garam.

Hujan Buatan Konvensional.SELAMA ini, BPPT membikin hujan buatan dengan metode konvensional atau disebut powder. Pesawat CASA NC-212-200 milik BPPT terbang membawa berton-ton garam dapur (NaCl). Beratnya tergantung kebutuhan. Untuk awan tunggal, biasanya dibutuhkan satu ton garam. Begitu sampai di awan yang ditargetkan, kru yang bertugas di atas pesawat segera melepas garam itu keluar dari pesawat. Proses pelepasan untuk satu ton garam biasanya berlangsung sekitar 20 menit. Butiran garam yang masuk awan akan menarik uap air di sekitarnya, sehingga terjadi kondensasi atau pengembunan. Uap air yang telah berubah menjadi air ini akan mengumpul dan semakin membesar, kemudian jatuh menjadi rintik-rintik hujan.Hanya saja, BPPT mengalami kesulitan menggarap awan kumulunimbus dengan metode konvensional. Lantaran pesawat terbang milik BPPT yang mengangkut berton-ton garam tidak bisa menjangkau ketinggian lebih dari 10.000 kaki. Sehingga mendung besar itu tidak bisa dimanfaatkan secara optimal. Dengan metode flare, awan besar itu bisa digarap. Sebab pesawat BPPT dengan membawa peralatan flare masih sanggup terbang hingga 20.000 kaki.Metode flare pada prinsipnya adalah teknologi modifikasi cuaca dengan meniru proses terjadinya hujan dalam awan. Yaitu dengan memproduksi partikel sebagai inti kondensasi. Partikel-partikel ini akan mengumpulkan uap air dari awan hingga dapat mempercepat turunnya hujan

Sumber : http://www.kaskus.us/showthread.php?t=6195629

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

http://jupitterpandawa.blogspot.com/

Silahkan masukan comentar anda

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...