Halaman Utama

Sabtu, 15 Januari 2011

ASUHAN KEPERAWATAN PADA HERNIA


 
 
 
ASUHAN KEPERAWATAN HERNIA : ABDOMINAL 
 
Hernia adalah penonjolan sebuah organ, jaringan atau struktur melewati dinding rongga yang secara normal memang berisi bagian-bagian tersebut. Hal ini seringkali disebut “ ruptur “. Hernia abdominal cendering terjadi pada kelemahan struktural yang didapat atau kongenital atau trauma pada dinding abdominal, yang terjadi karena peningkatan tekanan intrabdomen akibat dari mengangkat benda berat, obesitas, kehamilan, mengejan, batuk atau kedekatannya dengan tumor. 
Banyak jenis hernia abdominal yang terjadi, dilkasifikasikan berdasarkan tempat : 
1. Hernia inguinal (paling umum), visera menonjol ke dalam kanal inguinal pada titik di mana tali spermatik muncul pada pria, dan di sekitar ligamen pada wanita. Melalui lubang ini, hernia inguinal yang tidak langsung melebar menuruni kanal inguinal dan bahkan ke dalam skrotum atau labia. Hernia inguinal langsung menonjol melalui dinding inguinal posterior. 
2. Hernia femoral, terjadi dimana arteri femoralis masuk ke dalam kanal femoral, dan muncul di bawah ligamen inguinal di bawah pangkal paha. 
3. Hernia umbilikal, terjadi karena kegagalan orifisum umbilikal untuk menutup. Hal ini paling sering terjadi pada wanita obesitas, anak-anak, dan pada pasien dengan peningkatan tekanan intraabdominal karena sirosis dan asites. 
4. Hernia insisional atau ventral, terjadi melalui dinding abdominal karena kelemahan, kemungkinan juga karena penyembuhan insisi bedah yang buruk. 
5. Hernia parastomal menonjol melalui defek fasial di sekitar stoma dan ke dalam jaringan sub kutan. 
Hernia dapat dikurangi, jika massa yang menonjol dapat ditempatkan kembali di dalam rongga abdomen ; tidak dapat dikurangi ; jika massa yang menonjol tidak dapat dikembalikan lagi ke tempatnya ; inkaserasi, jika aliran intestinal tersumbat seluruhnya ; atau strangulasi, jika aliran darah dan aliran intestinal tersumbat seluruhnya. 


PENGKAJIAN 

1. Tonjolan hernia jika pasien berdiri atau mengejan (Valsava manuver) dan hilang pada saat telentang. 
2. Rasa tidak nyaman atau tertarik 
3. Strangulasi – nyeri parah, muntah, pembengkakan kantong hernia, nyeri tekan memantul, demam. 

EVALUASI DIAGNOSTIK 

1. Sinar X abdomen menunjukkan abnormalnya tinggi kadar gas dalam usus atau obstruksi usus. 
2. Hitung darah lengkap dan serum elektrolit dapat menunjukkan hemokonsentrasi (peningkatan hematokrit), peningkatan sel darah putih, dan ketidakseimbangan elektrolit. 

PENATALAKSANAAN 

Intervensi terapeutik 
§ Jika hernia dapat dikurangi dan pasien adalah calon pasien bedah yang buruk, sebuah truss/penopang (bantalan dan sabuk) dapat dipasang dengan tepat di atas area hernia untuk mencegah visera masuk ke dalam kantong hernia. Alat yang hampir sama tersedia untuk hernia parastomal yang dapat dikurangi. 

Intervensi bedah 
§ Pembedahan dianjurkan untuk memperbaiki defek dan mencegah strangulasi. Prosedur – prosedurnya meliputi : 
a. Herniorafi – pengangkatan kantong hernia ; isinya dikembalikan lagi ke abdomen ; lapisan otot dan fasia dijahit ; dapat dilakukan melalui laparoskopi pada pasien rawat jalan. 
b. Hernioplasti – melibatkan penjahitan penguatan, untuk memperbaiki hernia yang meluas. 
c. Reseksi usus untuk usus yang iskemik bersamaan dengan perbaikan hernia terstrangulasi. 

DIAGNOSA & INTERVENSI KEPERAWATAN 

1. Nyeri (khususnya dengan mengedan) yang berhubungan dengan kondisi hernia atau intervensi pembedahan. 

Intervensi : 
1. Kaji dan catat nyeri : beratnya, karakter, lokasi, durasi, faktor pencetus, dan metode penghilangan. Tentukan skala nyeri dengan pasien, rentangkan ketidaknyamanan dari 0 (tidak ada nyeri) sampai 10 (nyeri hebat). Laporkan nyeri berat, menetap, yang menandakan komplikasi. 
2. Beritahu pasien untuk menghindari mengejan, meregang, batuk, dan mengangkat benda yang berat. Ajarkan pasien untuk menekan insisi dengan tangan atau bantal selama episode batuk ; ini khususnya penting selama periode pascaoperasi awal dan selama 6 minggu setelah pembedahan. 
3. Ajarkan pasien bagaimana menggunakan dekker (truss), bial diprogramkan, dan anjurkan penggunaannya sebanyak mungkin, khususnya jika turun dari tempat tidur. Catatan : pasang truss sebelum pasien turun dari tempat tidur. 
4. Ajarkan pasien pemasangan penyokong skrotum atau kompres es, yang sering diprogramkan untuk membatasi edema dan mengendalikan nyeri setelah perbaikan hernia inguinalis. 
5. Berikan analgetik sesuai program jika diindikasikan, secara khusus sebelum aktivitas pascaoperasi. Gunakan tindakan kenyamanan ; distraksi, interaksi verbal untuk meningkatkan ekspresi perasaan dan menurunkan ansietas, gosokan punggung, dan teknik reduksi stres, seperti latihan relaksasi. Catat derajat penghilangan yang didapat, dengan menggunakan skala nyeri. 

2. Retensi urine (atau risiko terhadap hal yang sama) yang berhubungan dengan nyeri, trauma, dan penggunaan analgetik selama pembedahan abdomen bawah. 

Intervensi : 

1. Kaji dan catat distensi suprapubik atau keluhan pasien tidak dapat berkemih. 
2. Pantau haluaran urine. Catat dan laporkan berkemih yang sering <> 20 mmHg, klem kateter sampai tekanan darah pasien kembali ke batas normal. 

3. Kurang pengetahuan : Potensial komplikasi GI yang berkenaan dengan adanya hernia, dan tindakan yang dapat mencegah kekambuhan. 

Intervensi : 

1. Ajarkan pasien untuk waspada dan melaporkan nyeri berat, menetap ; mual dan muntah ; demam ; dan distensi abdomen, yang dapat memperberat awitan inkarserasi atau strangulasi usus. 
2. Dorong pasien untuk mengikuti regimen pengobatan : penggunaan dekker atau penyokong lainnya dan menghindari mengejan, meregang, konstipasi, mengangkat benda yang berat. 
3. Anjurkan pasien untuk mengkonsumsi diet tinggi residu atau menggunakan suplemen diet serat untuk mencegah konstipasi. Anjurkan masukan cairan sedikitnya 2 – 3 L/hari untuk meningkatkan konsistensi feses lunak. 
4. Beritahu pasien mekanika tubuh yang tepat untuk bergerak dan mengangkat. 

PENYULUHAN PASIEN – KELUARGA DAN PERENCANAAN PEMULANGAN 

Berikan informasi verbal dan tertulis kepada pasien dan orang terdekat tentang hal berikut : 
1. Perawatan insisi dan teknik penggantian balutan, jika tepat. Beritahu pasien tanda infeksi pada insisi, yang memerlukan intervensi medis : demam, kemerahan menetap, bengkak, hangat lokal, nyeri tekan, drainage purulen, bau busuk. 
2. Gejala kekambuhan hernia dan komplikasi pascabedah 
3. Pembatasan aktivitas pascabedah sesuai petunjuk : biasanya mengangkat benda yang berat (> 4 kg) dan mengejan dikontraindikasikan selama kira-kira 6 minggu. Antisipasi kembali bekerja dalam 2 minggu untuk pekerja kantor dan 6 minggu untuk buruh. 
§ Pentingnya mekanika tubuh yang tepat untuk mencegah kekambuhan, khusunya jika bila dan bergerak. 
§ Mencegah konstipasi dan mengejan saat defekasi (mis., dengan makan diet tinggi residu (buah-buahan, sayuran, banyak cairan, roti gandum), hindari sereal sangat halus dan pasta (mis., nasi putih, roti putih, mie dan es krim). 
§ Pengunaan laksatif jika diperlukan. 
§ Obat-obatan meliputi nama obat, tujuan, dosis, jadwal, interaksi obat/obat dan makanan/obat, dan potensial efek samping.



Sumber : http://kumpulan-materi-kuliah-akper.blogspot.com/search/label/Askep%20Hernia




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

http://jupitterpandawa.blogspot.com/

Silahkan masukan comentar anda

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...