Halaman Utama

Selasa, 15 November 2011

Songket Antik Jaman Sriwijaya



Jupitter  News _ Songket sudah menjadi ikon Sumsel,khususnya Kota Palembang. Bila dikenal lebih dalam, songket tidak cuma merupakan hasil karya seni yang tinggi,tetapi juga mengandung makna budaya yang mendalam. Terlebih lagi, songket yang merupakan hasil tenun yang masih menggunakan alat tradisional dan merupakan buah tangan wanita yang berusia ratusan tahun, songket juga bernilai sejarah tinggi.Salah satu songket yang bernilai tinggi adalah songket antik jenis lepus yang merupakan peninggalan zaman kerajaan Sriwijaya yang sarat dengan nilai seni dan sejarah yang tinggi.

Memiliki nilai sejarah yang tinggi, lantaran pembuatannya memakan waktu sampai bertahun-tahun dan lebih uniknya lagi songket ini berumur mencapai 250 tahun.Seperti diungkapkan Hj Eka Rachman selaku kolektor songket antik sekaligus pemilik toko Pesona Bari Songket, saat ditemui wartawan TOP di kediamannya toko Pesona Bari Songket Jl Kapt Cek Syech 34 Rt 01/24 ilir (Depan SDN 4) Palembang. Menurutnya, mengoleksi dan berbisnis songket mempunyai kepuasan dan keunikan tersendiri, apalagi bila dilihat mulai dari segi pembuatan yang menggunakan bahan dari benang emas dan kain sutra berkualitas tinggi pada zamannya, serta sejarahnya yang sudah turun temurun. Pada zaman Sriwijaya yang sudah memasuki abad ke-9, para pembuat songket dominan wanita yang belum menikah dan pembuatannya pun dimulai dari usia 12 tahun, sebab pada zaman itu para wanita yang ingin menikah harus membuat songket sendiri untuk pakaian yang dikenakan pada pernikahannya. “Pengerjaan songket ini juga bisa memakan waktu sampai bertahun-tahun untuk satu songketnya, sebab wanita pada zaman itu kegiatannya hanya membuat songket karena memang pada zaman itu belum ada fasilitas seperti zaman sekarang sehingga kegiatan para wanita pada zaman itu hanya membuat songket,” urainya.

Uniknya lagi, Eka menambahkan, bukan hanya dari kalangan wanita biasa yang membuat songket pada zaman Sriwijaya, tetapi dari kalangan wanita keturunan bangsawan pun ikut membuat tenun sendiri untuk pernikahannya. Sedangkan yang membedakannya dari alat tenun yang biasa digunakan oleh kaum bangsawan adalah karena alat tenunnya terbuat dari ukiran kayu. “Pembuatan songket pun tidak sembarangan karena dibutuhkan ketenang dan berjiwa seni tinggi sehingga menghasilkan songket yang sarat dengan nilai seni tinggi dan tingkat kerapian dari songket itu sendiri,” urai ibu dari Saira, Carisa, Bela, dan Fattahila ini. Pemilik Pesona Bari Songket ini menjelaskan,selain mengoleksi dan menjual songket antik turun temurun dari tahun 1952 sampai sekarang, dia juga menjual songket hasil tenun sendiri dan bisnis ini pun sudah digelutinya sejak tahun 1990 dengan menjual berbagai jenis songket, seperti songket lepus, tretesmider, janda berias, bunga cina, bunga inten, bunga pacik dan bunga jepang serta pernak pernik yang berbahan songket. “Alhamdulillah, kita sudah memasarkannya hingga ke mancanegara. Karena bisnis dan koleksi kita yang melestarikan songket, kita juga pernah mendapat penghargaan dari presiden dengan kategori usaha pelestarian budaya dan pengbdian budaya Indonesia,”tutupnya.



Sumber : http://top.sumeks.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=50:songket-zaman-kerajaan-sriwijaya&catid=44:unik&Itemid=63

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

http://jupitterpandawa.blogspot.com/

Silahkan masukan comentar anda

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...