Halaman Utama

Selasa, 02 Agustus 2011

Melirik Kamar Pribadi Bung Karno

Bung Karno dan Oei Tjoe Tat


Jupitter News _ Kamar tidur adalah ruang yang paling pribadi. Seperti apakah kamar tidur Paduka Yang Mulia, Pemimpin Besar Revolusi, Presiden Ir. Sukarno? Mestinya, sebagai ruang pribadi, yang tahu hanya Sukarno, istri, dan anak-anaknya. Akan tetapi tahukah Anda, bahwa sejak tahun 1953, Sukarno praktis tak lagi didampingi Fatmawati?

Ibu Negara yang dinikahi saat berusia 19 tahun itu, memilih keluar dari Istana dan tinggal di bilangan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, demi mengetahui dirinya dimadu. Ya, demi mengetahui Sukarno menikahi Hartini, si cantik pembuat sayur lodeh paling enak menurut lidah Bung Karno. Hartini –setelah dinikahi– kemudian tinggal di sebuah paviliun kecil di lingkungan Istana Bogor.
Praktis, sejak tahun 1953, Bung Karno tidak ditemani seorang wanita pun di Istana Negara Jakarta. Itu artinya, ia melewati malam-malam di Istana Negara dalam kesendirian. Dalam imaji yang lain, kita bisa membayangkan sebuah kamar “bujangan”.

Terbiasa hidup sendiri selama di Jakarta, membuat lambat laun, kamar tidurnya tidak lagi “sakral”. Tak jarang ia mengundang dan mengajak menteri tertentu, atau orang dekat tertentu berbicara empat mata di kamar. Bahkan, sesekali ia menyuruh ajudan mengajak tamunya masuk kamar untuk sekadar diajarkan bagaimana memakai dasi dubbel knoop (lipatan ganda).

Nah, salah seorang menteri, pembantu presiden, yang pernah merasakan dipanggil dan diajak berbicara persoalan penting dan rahasia berdua di kamar Bung Karno adalah Oei Tjoe Tat. Jabatannya adalah Menteri Negara Diperbantukan Presidium Kabinet Kerja antara tahun 1963-1966.  Ruang lingkup pekerjaan Oei Tjoe Tat yang tokoh Partindo ini cukup luas, karena harus berkoordinasi dengan tiga Wakil Perdana Menteri sekaligus: Soebandrio, J. Leimena, dan Chaerul Saleh.

Kembali ke topik kamar tidur Sukarno. Adalah Oei Tjoe Tat, satu dari sedikit manusia beruntung yang pernah melihat dengan mata kepala sendiri, rupa kamar tidur presidennya. Dia sendiri merasa sangat surprise diperlakukan begitu akrab oleh Sukarno. Di sisi lain, ia tidak melupakan jasa Menko Keuangan, Soemarno SH yang telah memberinya tips menghadapi Bung Karno.
Beberapa tips yang ia terima dari seniornya di kabinet itu antara lain, minimal sekali dalam seminggu harus setor muka, alias datang dan ikut agenda coffie uurtje (acara minum kopi pagi) yang rutin diadakan Presiden di serambi belakang Istana. Sekalipun begitu, tidak boleh terlalu sering menampakkan muka. Tips menghadapi Bung Karno lainnya adalah, jangan menyampaikan laporan sepenting apa pun, manakala Bung Karno tampak letih atau berwajah murung. Tips terakhir, jangan melaporkan keburukan menteri lain.

Dengan berbekal aneka tips tadi, singkat tutur, Oei Tjoe Tat terbilang sukses menjadi orang dekat Bung Karno. Karenanya, ia hafal betul kebiasaan-kebiasaan Bung Karno saat koffie uurtje, yang hanya mengenakan pantalon tua dan kaos oblong serta bersandal kulit. Pada saat itulah, sejumlah menteri hadir, ada kalanya juga dihadiri sejumlah duta besar negara sahabat, bahkan tak jarang menerima rakyat jelata dari sudut nun jauh Tanah Air yang rela menempuh jarak ribuan mil, menempuh waktu puluhan hari, untuk sekadar menjumpai presidennya.

Ada kalanya, di acara informal seperti itu, Bung Karno membuat keputusan-keputusan penting. Ada kalanya pula, hanya berbincang intim diseling kelakar segar. Dan, untuk persoalan yang lebih serius dan bersifat rahasia, tak jarang Bung Karno mengajak masuk pejabat bersangkutan ke kamar tidurnya, dan melanjutkan pembicaraan di sana.

Oei Tjoe Tat beberapa kali diajak masuk kamar tidur Bung Karno, dan dalam kesempatan itu pula ia tidak hanya melongok, tetapi dapat memelototi seisi kamar orang nomor satu di Republik Indonesia. Di dalam kamar, hanya ada dia dan Bung Karno. Dia duduk di ranjang Presiden sambil menyampaikan laporan penting dan rahasia, sementara Bung Karno mendengarkan. Ada kalanya, ia mendengar laporan Tjoe Tat sambil mencukur jenggot, jambang, dan kumis yang bertunas, di depan kaca.
Dalam suasana seperti itu, kepada menteri yang keturunan Tionghoa kelahiran Solo itu, Bung Karno akan mengubah bahasa percakapan menjadi bahasa Jawa ngoko bercampur Belanda. Bung Karno pun memanggil namanya dengan panggilan “Tjoe Tat” saja.
Kesan pertama saat masuk kamar tidur Bung Karno, terwakili hanya dengan satu kata: Berantakan!

Menurut Tjoe Tat, separuh dari ranjang Presiden, berisi buku-buku yang berserak tak beraturan. Bukan hanya itu, bahkan di lantai pun ia melihat buku-buku berserakan. Pada cantelan baju di dinding, tergantung jas-jas dan pantalon-pantalon sangat tidak beraturan.
“Tidak rapi, dan tidak terawat,” suara batin Tjoe Tat mengomentari kamar Bung Karno. (roso daras)



Sumber : http://rosodaras.wordpress.com/2009/08/30/melongok-kamar-tidur-bung-karno/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

http://jupitterpandawa.blogspot.com/

Silahkan masukan comentar anda

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...